BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Pergeseran tanah di muka bumi ini memang tidak bisa terelakkan. Bumi semakin tua dan penghuninya juga semakin banyak, faktor-faktor terjadinya tanah longsor juga akan semakin bertambah, dari faktor alam itu sendiri di tambah faktor manusia itu sendiri.
Manusia di ciptakan sebagai mahluk sempurna dan di beri akal namun sering kali akal mereka tidak di gunakan sebagai mana mestinya. Sebagai mahluk tersempurna seharusnya manusia bisa menjaga alam dan melestarikannya karna itu juga untuk kebutuhan manusia itu sendiri. Namun sekarang malah banyak manusia yang tidak perduli dengan alam malah justru merusaknya dengan menebang poon sambarangan, membakar hutan dan lain sebagainya.
Membicarakan tentang penyebab longsor memang tidak ada habisya, namun di makalah ini akan saya coba untuk mengulas sedikit mengenai penyebab dan cara menanggulanginya
BAB II
PEMBAHASAN
I. Pengertian tanah longsor
Longsor bisa di definisikan pula sebagai suatu peristiwa perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan tanah, atau material campuran yang bergerak ke bawah atau keluar lereng karena pengaruh gravitasi.
Secara umum kejadian longsor disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor pendorong dan faktor penahan. Faktor pendorong adalah faktor-faktor yang memengaruhi kondisi material batuan itu sendiri, sedangkan factor penahan adalah faktor yang menyebabkan bergeraknya material tersebut.
Meskipun penyebab utama kejadian ini adalah gravitasi yang memengaruhi suatu lereng yang curam. Tanah longsor terjadi apabila gaya pendorong pada lereng lebih besar dari pada gaya penahan. Gaya penahan pada umumnya dipengaruhi oleh kekuatan batuan dan kepadatan tanah. Sedangkan gaya pendorong dipengaruhi oleh besarnya sudut lereng, air, beban serta berat jenis tanah atau batuan.
Proses terjadinyatanah longsor dapat diterangkan sebagai berikut: air yang meresap ke dalam tanah akan menambah bobot tanah. Jika air tersebut menembus sampai tanah kedap air yang berperansebagai bidang gelincir, maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerakmengikuti lereng dan keluar lereng.
Longsor berdampak buruk bagi masyarakat dan pemerintah. Kebanyakan bencana tanah longsor di Indonesia memakan korban jiwa. Ini dikarenakan letak tempat tinggal masyarakat tersebut yang dekat dengan tebing dan lereng terjal. Tanah longsor juga mengakibatkan rusaknya infrastruktur termasuk rumah dan jalan warga. Longsor juga merusak sumber mata pencaharian para petani di sekitar tanah longsor.
II. Pemicu Terjadinya Tanah Longsor
Umumnya, timbulnya tanah longsor dipicu oleh hujan lebat. Lereng gunung yang gundul dan rapuhnya bebatuan dan kondisi tanah yang tidak stabil membuat tanah-tanah ini tidak mampu menahan air di saat terjadi hujan lebat. Akan tetapi, tanah longsor juga bisa ditimbulkan oleh aktivitas gunung berapi atau gempa.
Lereng-lereng yang lemah yang mendapat tekanan dari getaran gempa tentu saja membuat tanah yang terkena tekanan tadi menjadi longsor. Aktivitas gunung berapi yang menimbulkan hujan deras, simpanan debu yang lengang dan alirannya pun juga dapat menimbulkan tanah longsor.
Penambangan tanah, batu, atau pasir yang tidak terkendali juga bisa menjadi pemicu bencana ini. Manusia seharusnya tidak menggunduli hutan, menambang tanah atau pasir atau bebatuan dalam jumlah besar yang akan mengganggu kestabilan tanah dan memicu terjadinya longsor. erosi akibat sungai dan gelombang laut menciptakan lereng yang curam. Bahkan petir, getaran mesin, dan penggunaan bahan peledak juga dapat menimbulkan tanah longsor.
pada prinsipnya tanah longsor terjadi bila gaya pendorong pada lereng lebih besar dari gaya penahan. Gaya penahan umumnya dipengaruhi oleh kekuatan batuan dan kepadatan tanah. Sedangkan gaya pendorong dipengaruhi oleh besarnya sudut kemiringan lereng, air, beban serta berat jenis tanah batuan.
Faktor penyebab terjadinya gerakan pada lereng juga tergantung pada kondisi batuan dan tanah penyusun lereng, struktur geologi, curah hujan, vegetasi penutup dan penggunaan lahan pada lereng tersebut, namun secara garis besar dapat dibedakan sebagai faktor alam dan faktor manusia:
Faktor penyebab terjadinya gerakan pada lereng juga tergantung pada kondisi batuan dan tanah penyusun lereng, struktur geologi, curah hujan, vegetasi penutup dan penggunaan lahan pada lereng tersebut, namun secara garis besar dapat dibedakan sebagai faktor alam dan faktor manusia:
1) Faktor alam
• Kondisi geologi : batuan lapuk, kemiringan lapisan, sisipan lapisan batu lempung, strukutur sesar dan kekar, gempa bumi, stragrafi dan gunung berapi.
• Iklim : curah hujan yang tinggi.
• Keadaan topografi : lereng yang curam.
• Keadaan air : kondisi drainase yang tersumbat, akumulasi massa air, erosi dalam, pelarutan dan tekanan hidrostatika.
• Tutup lahan yang mengurangi tahan geser, misalnya tanah kritis.
• Getaran yang diakibatkan oleh gempa bumi, ledakan, getaran mesin, dan getaran lalu lintas kendaraan.
• Kondisi geologi : batuan lapuk, kemiringan lapisan, sisipan lapisan batu lempung, strukutur sesar dan kekar, gempa bumi, stragrafi dan gunung berapi.
• Iklim : curah hujan yang tinggi.
• Keadaan topografi : lereng yang curam.
• Keadaan air : kondisi drainase yang tersumbat, akumulasi massa air, erosi dalam, pelarutan dan tekanan hidrostatika.
• Tutup lahan yang mengurangi tahan geser, misalnya tanah kritis.
• Getaran yang diakibatkan oleh gempa bumi, ledakan, getaran mesin, dan getaran lalu lintas kendaraan.
2) Faktor manusia
• Pemotongan tebing pada penambangan batu di lereg yang terjal.
• Penimbunan tanah urugan di daerah lereng.
• Kegagalan struktur dinding penahan tanah.
• Penggundulan hutan.
• Budidaya kolam ikan diatas lereng.
• Sistem pertanian yang tidak memperhatikan irigasi yang aman.
• Pengembangan wilayah yang tidak di imbangi dengan kesadaran masyarakat, sehingga RUTR tidak ditaati yang akhirnya merugikan sendiri.
• Sistem drainase daerah lereng yang tidak baik.
• Pemotongan tebing pada penambangan batu di lereg yang terjal.
• Penimbunan tanah urugan di daerah lereng.
• Kegagalan struktur dinding penahan tanah.
• Penggundulan hutan.
• Budidaya kolam ikan diatas lereng.
• Sistem pertanian yang tidak memperhatikan irigasi yang aman.
• Pengembangan wilayah yang tidak di imbangi dengan kesadaran masyarakat, sehingga RUTR tidak ditaati yang akhirnya merugikan sendiri.
• Sistem drainase daerah lereng yang tidak baik.
3) Internal
- Naiknya tekanan air pori
- Kondisi geologi
- Menurunnya kuat geser tanah/batuan
- Naiknya tekanan air pori
- Kondisi geologi
- Menurunnya kuat geser tanah/batuan
4) External
- Perbuatan manusia
- Curah hujan yang tinggi
- Erosi sungai
- Gempa
- Perbuatan manusia
- Curah hujan yang tinggi
- Erosi sungai
- Gempa
III. Ciri-ciri tanah longsor
· Munculnya retakan-retakan di lereng yang sejajar dengan arah tebing. Biasanya terjadi setelah hujan.
· Munculnya mata air baru secara tiba-tiba.
· Tebing rapuh dan kerikil mulai berjatuhan.
· Jika musim hujan biasanya air tergenang, menjelang bencana itu, airnya langsung hilang.
· Pintu dan jendela yang sulit dibuka.
· Runtuhnya bagian tanah dalam jumlah besar.
· Pohon/tiang listrik banyak yang miring.
· Halaman/dalam rumah tiba-tiba ambles
· Munculnya retakan di lereng-lereng yang arahnya sejajar dengan tebing
· Air sumur yang keruh di sekitar lereng
· Munculnya air di permukaan tanah pada lokasi yang baru secara tiba-tiba
· Rapuhnya tebing dan kerikil mulai berjatuhan.
IV. Wilayah yang rawan longsor
· Berada di daerah yang gundul dan terjal
· Pernah terjadi tanah longsor sebelumnya.
· Daerah yang dilalui aliran air hujan
· Kondisi tanah yang tebal atau sangat gembur pada lereng-lereng yang terkena hujan lebat dengan intensitas tinggi
V. Tindakan yang harus dilakukan ketika tertimpa tanah longsor
· Pindahlah ke daerah yang tanahnya stabil ketika tanah longsor terjadi
· Bila tidak mampu melarikan diri, lingkarkan tubuh seperti bola untuk melindungi kepala tertimpa atap.
VI. Tindakan yang harus dilakukan setelah terjadi longsor
· Pergi dari daerah longsoran untuk menghindari terjadinya tanah longsor susulan.
· Bantu arahkan SAR ke lokasi.
· Bantu penduduk yang tertimpa longsoran, periksa lukanya, dan pindah ke tempat yang aman.
· Waspada pada banjir dan aliran reruntuhan yang dapat terjadi setelah tanah longsor.
· Laporkan fasilitas umum yang rusak ke pihak yang berwenang.
· Periksa kerusakan fondasi rumah akibat longsor.
· Tanamlah tumbuhan di daerah bekas longsoran untuk mencegah terjadinya erosi yang dapat menyebabkan banjir bandang.
VII. Hal Yang Dilakaukan Selama Dan Sesudah Longsor
1. Tangga Darurat
Yang harus dilakukan dalam tahap tangga darurat adalah penyelamatan dan pertolongan korban secepatnya supaya korban tidak bertambah.
Yang harus dilakukan dalam tahap tangga darurat adalah penyelamatan dan pertolongan korban secepatnya supaya korban tidak bertambah.
2. Rehabilitasi
Upaya pemulihan korban dan prasarananya, meliputi kondisi sosial, ekonomi, dan sarana transportasi. Selain itu dikaji juga perkembangan tanah longsor dan teknik pengendaliannay supaya tanah longsor tidak berkembang dan penentuan relokasi korban tanah longsor bila tanah longsor sulit dikendalikan.
Upaya pemulihan korban dan prasarananya, meliputi kondisi sosial, ekonomi, dan sarana transportasi. Selain itu dikaji juga perkembangan tanah longsor dan teknik pengendaliannay supaya tanah longsor tidak berkembang dan penentuan relokasi korban tanah longsor bila tanah longsor sulit dikendalikan.
3. Rekontruksi
Penguatan bangunan-bangunan infrastruktur di daerah rawan longsor tidak menjadi pertimbangan utama untuk mitigasi kerusakan yang disebabkan oleh tanah longsor, karena kerentanan untuk bangunan-bangunan yang dibangun pada jalur tanah longsor hampir 100%.
Penguatan bangunan-bangunan infrastruktur di daerah rawan longsor tidak menjadi pertimbangan utama untuk mitigasi kerusakan yang disebabkan oleh tanah longsor, karena kerentanan untuk bangunan-bangunan yang dibangun pada jalur tanah longsor hampir 100%.
VIII. Cara penanggulangan
Cara yang di lakukan untuk menanggulangi longsor itu sangat penting, cara penangulanganya pun dapat di bedakan dalam berbagai cara seperti,
Penanggulangan secara umum
· Jangan membuka lahan persawahan dan membuat kolam di lereng bagian atas di dekat pemukiman.
· Buatlah terasering ( sengkedan ) pada lereng yang terjal bila membangun pemukiman.
· Segera menutu retakan tanah dan dipadatkan agar air tidak masuk ke dalam tanah dan melalui retakan tersebut.
· Jangan memotong tebing jalan menjadi tegak.
· Jangan mendirikan rumah di tepi sungai yang rawan erosi.
· Jangan menebang pohon di lereng.
· Jangan membangun rumah di bawah tebing.
Penanggulangan Metode Penambatan
Metode penambatan ini terbagi dalam 2 (dua) kategori, yaitu penambatan tanah dan penambatan batuan.
Penambatan tanah terdiri dari:
· Tembok penahan
· Sumuran
· Tiang pancang
· Turap baja
· Bored pile
Sedangkan penambatan batuan terdiri dari:
· Tumpuan beton
· Baut batuan Pengikat beton
· Jangkar kabel
· Jala kawat
· Tembok penahan batu
· Beton semprot
· Dinding tipis
a. Tembok Penahan
Tembok penahan dibuat dari pasangan batu, beton, atau beton bertulang. Keberhasilan tembok penahan tergantung dari kemampuan menahan geseran dan stabilitas terhadap guling. Selain untuk menahan gerakan tanah, juga berfungsi melindungi bangunan dari runtuhan. Tembok penahan harus diberi fasilitas drainase dan pipa salir sehingga tidak terjadi tekanan hidrostatis yang besar.
b. Sumuran
Cincin-cincin (gorong-gorong) beton pracetak dengan diameter 0,1 - 2,0 meter dimasukkan ke dalam sumuran yang digali dengan kedalaman melebihi bidang longsoran. Kemudian gorong-gorong diisi dengan beton tumbuk, beton cyclop, atau material berbutir tergantung dari kekuatan geser yang dikehendaki.
Pelaksanaan penanggulangan dengan metode ini sebaiknya dilakukan pada musim kemarau, pada saat tidak terjadi gerakan. Cara ini bisa dilakukan sampai dengan kedalaman 15 meter.
c. Tiang Pancang
Tiang pancang cocok digunakan untuk pencegahan maupun penanggulangan longsoran yang bidang longsornya tidak terlalu dalam, namun tidak cocok untuk jenis tanah yang sensitif karena getaran yang terjadi pada saat pemancangan dapat mencairkan massa tanah. Efektifitasnya juga tergantung pada kemampuannya menembus lapisan tanah. Pada umumnya semua metode tiang tidak cocok untuk gerakan tanah tipe aliran, karena tanahnya bersifat lembek dan dapat lolos melalui sela-sela tiang.
d. Bored Pile
Penjelasan mengenai penanggulangan longsoran dengan konstruksi bored pile akan disajikan dalam sub bab 2.5.
e. Turap Baja
Untuk lapisan keras disarankan menggunakan tiang baja terbuka pada ujung-ujungnya. Turap baja tidak efektif untuk menahan massa longsoran yang besar, karena modulus perlawanannya yang kecil. Namun masalah ini dapat diatasi dengan pemasangan ganda. Sedangkan tiang baja yang berbentuk pipa dapat diisi beton atau komposit beton dengan baja profil untuk memperbesar modulus perlawanannya.
f. Tumpuan Beton
Tumpuan beton digunakan untuk menyangga batuan yang menggantung akibat tererosi atau pelapukan.
g. Baut Batuan
Baut batuan dipasang untuk memperkuat massa batu yang terbentuk oleh adanya diskontinuitas kekar dan retakan agar lereng menjadi stabil.
h. Pengikat Beton
Umumnya dikombinasikan dengan baut batuan agar mengurangi penggunaan baut batuan.
i. Jangkar Kabel
Metode ini dilakukan bila massa batuan yang bergerak berukuran besar.
j. Jala Kawat
Dipasang pada bagian kaki lereng untuk menjaga agar runtuhan batuan bisa ditahan di satu tempat.
k. Tembok Penahan Batu
Dipasang pada bagian kaki lereng untuk menahan fragmen batuan yang runtuh dari atas.
l. Beton Semprot
Digunakan untuk memperkuat permukaan batu yang bersifat kekar, meluruh, atau batuan lapuk.
m. Dinding tipis
Beberapa jenis batuan seperti serpih atau batuan lempung sangat mudah lapuk bila tersingkap (terbuka). Untuk melindungi batuan tersebut, maka dipasang dinding tipis dari batu bata, batu, atau beton pada permukaannya.
Beban Kontra (Counter Weight)
· Bronjong
Bronjong adalah bangunan berupa anyaman kawat yang diisi dengan batu belah. Struktur bangunannya berbentuk persegi dengan ukuran sekitar (2 x 1 x 0,5) m³ yang disusun secara bertangga.
Keuntungan penggunaan bronjong antara lain sebagai berikut:
ü Bronjong adalah struktur yang tidak kaku sehingga dapat menahan gerak vertikal maupun horisontal.
ü Bila runtuh masih bisa dimanfaatkan lagi.
ü Bersifat lulus air sehingga tidak menyebabkan terjadinya genangan air permukaan.
ü Pelaksanannya mudah.
ü Material mudah didapat.
ü Biayanya relatif lebih ekonomis.
Bronjong umumnya dipasang di kaki lereng yang juga berfungsi mencegah penggerusan. Keberhasilan penggunaan bronjong sangat tergantung dari kemampuannya dalam menahan geseran pada tanah di bawah alasnya. Oleh karena itu bronjong harus diletakkan dengan mantap di bawah bidang longsoran.
Bronjong efektif bila digunakan untuk longsoran dangkal, namun tidak efektif untuk longsoran berantai (multiple slide).
· Tanah Bertulang
Tanah bertulang berfungsi menambah tahanan geser. Konstruksi ini terdiri dari timbunan tanah berbutir yang diberi tulangan berupa pelat-pelat baja strip dan panel untuk menahan material berbutir. Bangunan ini pada umumnya ditempatkan di ujung kaki lereng dan dipasang pada dasar yang kuat di bawah bidang longsoran.
· Dinding Penopang Isian Batu
Cara penanggulangan ini dilakukan dengan penimbunan pada bagian kaki longsoran dengan material berbutir kasar yang dipadatkan dan berfungsi menambah tahanan geser. Penanggulangan ini bisa digunakan untuk longsoran rotasi maupun translasi.
Dalam pemilihan metode ini harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
ü Tidak mengganggu kemantapan lereng di bawahnya.
ü Alas isian batu harus diletakkan di bawah bidang longsoran sedalam 1,5 – 3,0 meter.
Penanggulangan lonsor juga dapat dilakukan dengan cara lain yaitu,
Dinding penahan tanah
Dinding penahan tanah adalah suatu dinding yang direncanakan dan dibangun untuk menahan permukaan yang mempunyai perbedaan tinggi pada masing-masing dinding. Keberadaan dinding penahan tanah pada suatu saat kadang tidak mampu menanggulangi bencana tanah longsor sepenuhnya.
Meskipun telah direncanakan dengan perhitungan yang sudah sesuai dengan tata cara perencanaan sebuah dinding penahan tanah yang didasari ilmu ke-teknik sipil-an, pada kasus tertentu dinding penahan tanah tersebut tidak mampu menahan pergerakan tanah yang longsor akibat tergerus oleh aliran air yang tidak terprediksi debitnya. Ini disebabkan karena tidak adanya drainase di lingkungan tersebut. Sehingga pada saat hujan lebat, maka air menggenangi dan menggerus tanah di lokasi longsor tersebut. Meskipun pada dinding penahan tanah sudah dilengkapi dengan suling-suling/pori-pori untuk mengalirkan air, tetapi debit air yang datang lebih besar akibat tidak adanya drainase.
Drainase atau bahasa kerennya saluran air atau biasanya kita sebut got/parit. Drainase dirancang untuk mengalirkan air hujan dari daerah permukaan yang tinggi ke rendah. Jadi seharusnya memang tidak boleh membuang sampah ke drainase, akibatnya, ya tentunya datang si banjir dan otomatis menyebabkan longsor. Padahal drainase dibuat untuk menghindari banjir dan longsor dengan cara menjadi media atau wadah mengalirkan air hujan yang jatuh ke badan jalan atau permukaan tanah. Perancangan drainase didasarkan besarnya curah hujan pada daerah tersebut, luas area yang dilayani, dan tata lahan area tersebut. jadi, sebenarnya ukuran, panjang, dan dimensi drainase tidak dirancang sembarangan loh. Perlu perhitungan dan analisis yang tinggi.
Dari penelitian itu diketahui, sistem stabilisasi lereng tercapai dengan pengurangan kemiringan lereng sebesar 5 persen disertai penanaman campuran tanaman tahunan, yaitu rambutan, durian, dan jengkol dengan kerapatan 200-400 pohon per hektar.
Alternatif lain adalah memasang batu beton cetakan yang saling terikat. Dipadukan dengan bahan geotekstil yang dapat menahan dan menyalurkan air ke luar. Dinding segmental itu dapat dipasang hingga ketinggian 7 meter, bahkan di tanah pasir sampai 18 meter. Dinding ini dapat menerima gaya-gaya yang tidak merata, yang pada dinding beton konvensional dapat menimbulkan keretakan. Dinding cetakan itu pembangunannya cepat, lebih murah, dan kuat.
Geotekstil
Geotekstil adalah teknik pelapisan tanah untuk mencegah longsor dan ambles. Untuk itu, digunakan lembar plastik atau polimer dari jenis poliester, polipropilen, atau polietilen. Lapisan plastik ini berfungsi mencegah kebocoran, mengalirkan air yang merembes ke dinding, dan mencegah kebocoran.
Teknik pelapisan yang diperkenalkan Inggris tahun 1960-an ini kemudian dikembangkan Jepang, terutama untuk meningkatkan kekuatan bahan. ”Bila yang lama hanya dapat menahan beban 1-2 ton, geotekstil yang baru dapat tahan sampai pembebanan 100 ton,” kata Hasimi Fukuoka, ahli bangunan sipil dari Jepang, dalam forum diskusi beberapa waktu lalu.
Dari faktor biaya, pelapisan dengan geotekstil 40 persen lebih murah dibandingkan dengan beton. Masa pengerjaannya dapat dua kali lebih cepat. Penggunaan polimer dapat mempertahankan bentuk alami sehingga tanggul di tepi sungai masih dapat ditanami rumput setelah pelapisan. ”Ini berbeda dengan tanggul beton yang keberadaannya menentang alam.
Penanggulangan bencana longsor perlu partisipasi semua pihak, termasuk masyarakat setempat. Warga yang tinggal di daerah rawan longsor perlu diberdayakan untuk mengenali gejala awal longsor dan aktif memantau di lapangan sehingga antisipasi dini bisa dilakukan.
Masyarakat lokal perlu dilatih untuk mengenali gejala awal terjadinya tanah longsor seperti adanya retakan tanah di kawasan lereng. Munculnya retakan di lereng biasanya sejajar arah tebing dan terjadi setelah hujan.
Gejala lain adalah munculnya mata air baru secara tiba-tiba. Pada tebing rapuh ditandai kerikil yang mulai berjatuhan. ”Bila ditemukan kerusakan itu, mereka perlu segera menutup dan memadatkan tanah,” kata Wisnu Widjaja dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana. (kompas.com/ humasristek)
GAMBAR PENANGGULANGAN GERAKAN TANAH (LONGSOR)
GEOTEKSTIL
BRONJONG
DAFTAR PUSTAKA
http://www.toko-geotextile.com/index.php/2015/09/29/aplikasi-geotextilegeogrid-untuk-timbunan-tanah/







BalasHapusFancy designer wear our website and resonable price More....
Plz visit Plz visit:- designer wear supplier in surat
Mantap.
BalasHapus